Selamat Datang di Blog Motivasi Karya Anak Bangsa

Semua Penulisan ini adalah kumpulan dari beberapa pendapat anak bangsa di Indonesia.

Minggu, 12 Februari 2012

Asal Usul Masyarakat Gayo

Oleh : Maya Agusyani, S.Pd*
Tanah Gayo adalah suatu daerah di belahan bumi sebelah utara garis khatulistiwa yang terletak di tengah-tengah propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gayo merupakan daerah sentral bagi daerah-daerah sekitarnya seperti Aceh Utara, Aceh Barat, Pidie, Aceh Timur dan Sumatera Utara. Terletak di tengah-tengah pegunungan daerah Aceh yang membujur dari utara ke bagian tenggara sepanjang bukit barisan bagian ujung pulau Sumatera.
Secara administrative, suku bangsa Gayo adalah orang-orang yang mendiami kabupaten yang disebut Aceh Tengah dan Bener Meriah. Penduduk daerah Gayo pada masa sekarang ini terdiri dari suku bangsa Gayo sendiri, yang juga berasal dari suku bangsa lain seperti Aceh, Jawa, Minangkabau bahkan orang-orang Cina, baik WNI maupun WNA yang menetap di Takengon.
Tetapi pada masa lampau penduduk daerah Gayo dibagi menjadi dua bagian, yaitu penduduk daerah Gayo yang bertempat tinggal di Kebayakan dan penduduk Gayo yang bertempat tinggal di Bebesan.
Kampung Kebayakan terletak di sebelah barat laut danau Laut Tawar. Sedangkan Kampung Bebesan terdapat di sebelah barat Kebayakan. Kedua kampung tersebut dihubungkan oleh jalan kurang lebih 1 Km.
Asal Usul
Dalam sejarah, penduduk yang mendiami kampun Kebayakan dan Bebesan merupakan kampung “inti” di Gayo Laut, mempunyai satu anggapan bahwa asal usul mereka berbeda. Penduduk kampung Kebayakan mengatakan mereka adalah penduduk asli di daerah Gayo ini.
Sedangkan yang satu pihak lagi, yakni penduduk kampung Bebesan, memang menyadari bahwa mereka berasal dari Batak (Tapanuli), lebih popular disebut dengan Batak 27 (disebut dengan Batak 27 karena dalam sejarah kedatangan mereka ke Gayo pada jaman lampau, orang-orang Batak ini berjumlah 27 orang).
Belum jelas pada abad berapa peristiwa kedatangan Batak Karo 27 tersebut ke Tanah Gayo. Namun, pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar, pada abad ke 16 M pernah tujuh pemuda dari tanah Karo bertamasya ke Tanah Gayo. Kedatangan mereka guna menyaksikan kebenaran keindahan laut tawar (H. AR. Latief, 1995 : 81).
Sementara menurut Dr. C. Snouck Hougronje, kedatangan Batak Karo 27 adalah pada masa kejuruan (raja) bukit telah memeluk Islam. Kejuruan Bukit adalah suatu bagian dari raja-raja yang terdapat di tanah Gayo yang memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan (kejuruan) lain.
Kedatangan orang-orang dari Tapanuli yang dikenal dengan istilah “Batak 27” ini melahirkan nama-nama Belah atau Clan di Gayo dengan nama yang hamper sama dengan marga yang ada di Tanah Karo sendiri. Seperti Clan Munthe, Cibero, Melala, Lingga, Tebe yang di Karo disebut Munthe, Sibero, Meliala dan sebagainya.
Batak 27 pada masa itu mendapat sebagian wilayah kekuasaan Raja Bukit sebagai diyat untuk mengganti kerugian akibat matinya suku Batak Karo yang terbunuh dalam peperangan.
Ganti rugi tersebut diwujudkan dengan membelah danau Laut Tawar menjadi dua sampai Kala Bintang sebelah utara termasuk daratan, mulai dari kampung Kebayakan, Rebe Gedung, Simpang Tiga, Delung Tue win Ilang hingga Ramung Kengkang perbatasan Aceh Timur (sekarang Kabupaten Bener Meriah, red) dan arah selatan sampai perbatasan Lingga.
Setelah batas wilayah ditentukan oleh kedua belah pihak yang berdamai, Raja Bukit ke II Panglima Perang Dagang mengajukan sebuuah tuntutan kampung bukit berikut bangunannya yang telah diduduki oleh Batak 27.
Raja Leube Keder berkata dengan tegas bebaskan, dalam bahasa Karo artinya dibebaskan dari tuntutan, lambat laun kata bebaskan berubah menjadi kata Bebesan sampai sekarang ini (AR. Latief, 1995). Raja Bukit Panglima Perang Dagang, kemudian bersumpah tidak berkeberatan kampung Bebesan berikut bangunannya dijadikan hak milik Batak 27.
Beberapa hari kemudian penduduk bukit sendiri membangun pemukiman baru yang terletak dipinggir Danau Laut Tawar yang sekarang disebut dengan daerah Kebayakan. Mula-mula kampung ini disebut dengan Kebanyakan karena penduduknya yang terbanyak, kemudian setelah penjajah Belanda datang dan tidak dapat menyebutkan nama kampung tersebut dengan tepat, berubah menjadi Kebayakan.
Marcopolo yang pernah singgah di Peureulak, Aceh Timur sekembali dari Cina menuju Italia tahun 1292 mengatakan bahwa penduduk Aceh telah memeluk agama Islam. Penduduk yang tidak mau memeluk agama Islam menyingkir ke pedalaman dan menjumpai kerajaan kecil di pedalaman tersebut.
Penduduk asli pedalaman ini menyebut daerahnya sebagai “Lainggow” dan menyebut rajanya dengan Ghayo-Ghayo atau raja gunung yang suci. Di daerah Lianggow tersebut telah berdiri kerajaan kecil, yaitu “Kerajaan Linggow” dan kerajaan besar yaitu kerajaan ‘Lingga’ dan sudah memiliki hubungan dengan kerajaan Peureulak di Aceh Timur dengan mengirim bingkisan (MH Gayo, 1983).
Adalah masuk akal jika catatan Marcopolo tersebut dipegang kebenarannya, maka dalam perkembangan sejarah selanjutnya penduduk pedalaman ini disebut dengan Suku Gayo.
Sementara itu ada pula orang yang beranggapan bahwa orang Gayo adalah berasal dari orang-orang yang lari dari daerah Peureulak, Aceh Timur ke daerah pedalaman karena tidak mau masuk Islam. Dan kata-kata Gayo sama artinya dengan kata-kata dalam bahasa Aceh, yaitu “Ka-yo” yang artinya “sudah takut.
Meskipun tidak ada penjelasan ilmiah mengenai hal ini, namun demikian jika dilihat dari letak daerah Gayo dalam peta Aceh, tidaklah mustahil jika orang-orang Gayo di zaman dahulu kala berasal dari penduduk daerah Peureulak, Aceh Timur atau daerah  Pasee, Aceh Utara melalui sungai-sungai yang hulunya berada di daerah Gayo di pedalaman.
Kemungkinan itu lebih besar lagi mengingat kedua daerah Peureulak dan Pasee berada di pinggir pantai Aceh yang menghadap ke Selat Melaka, yaitu daerah hubungan lalu lintas antar bangsa-bangsa yang ramai dalam sejarah di kawasan Asia Tenggara.
Komunitas Gayo
Hingga saat ini penduduk Gayo ini dibagi menurut daerah kediamannya. Suku Gayo disebut sebagai orang Gayo Laut atau Gayo Lut bagi mereka dan berdiam di sekitar Gayo Lues dan orang Gayo serba jadi bagi mereka yang berdiam diri di sekitar serba jadi sembung-lukup (sekarang Kabupaten Gayo Lues-red).
Selain itu masih ada orang-orang Gayo yang terdapat dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah-pisah yang berdiam di sekitar Aceh Timur dan sekitar perbatasan Aceh Timur-Sumatera Utara, seperti orang Gayo Kalul, orang Gayo Johar dan lain-lain. Sedangkan suku Alas berdiam di berbagai daerah tanah Alas yang berbatasan langsung dengan Gayo Lues, Asel, daerah Karo dan Sumatera Utara.
Islam Di Gayo
Memperhatikan keaneka ragaman penduduk Gayo yang tinggal di tanah Gayo, Aceh Tengah itu menunjukkan bahwa daerah gayo itu tidak menutup pintu bagi orang-orang yang hendak tinggal di sana. Kemungkinan besar bagi pendatang itu mendapat tempat yang layak dikalangan masyarakat, maka suatu dugaan keras bahwa masuknya Islam ke daerah Gayo di bawa oleh pendatang-pendatang.
Baik pendatang itu sebagai pedagang maupun sebagai mubaligh. Salah satu bukti yang dapat dilihat adalah adanya sebuah kuburan Ya’kub, saudara Misan dari Al-Malik Al-Kamil yang terdapat di desa Lingga. Ya’kub meninggal pada hari Jum’at, 15 Muharram 630 H (1232 M). Namun, untuk hal ini diperlukan lagi penelitian yang lebih mendalam.
Menurut Belanda, daerah Gayo adalah suatu daerah yang menentukan hidup matinya kekuasaan Belanda di Aceh. Sebab ketika Batee Iliek jatuh ke tangan Belanda, Sultan mundur ke Tanah Gayo yang bertepatan dengan disusunnya gerakan mempertahankan kemerdekaan yang dipimpin oleh Teungku Tapa sejak tahun 1898.
Rakyat Gayo yang menyadari Agresi Belanda sangat berbahaya, maka dengan serempak rakyat Gayo menaikkan bendera putih yang disebut “Pepanyi ni Umah”, panji tersebut dilukis dengan kalimah Allah, Rasul dan keempat sahabat. Panji-panji tersebut dinaikkan oleh rakyat di tiap-tiap rumahnya sebagai pertanda datangnya syaitan yang bermaksud menjahanamkan ummat Islam (Mohd. Said 1981: 632) sehingga rakyat Gayo dengan serta merta mengadakan perlawanan terhadap Belanda.
Batak 27 di Laut Tawar
Batak 27 yang datang ke Gayo mempunyai seorang pemimpin Batak Karo muslim dan seorang ulama yang arif dan bijaksana. Pemimpinnya tersebut bernama Leubee Kader yang merupakan cucu dari Adi Genali, anak dari Johansyah atau Sibayak Lingga (AR. Latief 1995 : 68) yang kemudian berhasil menjadi raja Bebesan yang pertama setelah menuntut diyat dari raja bukit. Setelah menguasai daerah dan masyarakat sekitarnya pun ikut memeluk agama Islam. Bahkan anggota Batak Karo itu ikut meleburkan diri dalam masyarakat Gayo melalui perkawinan.
Leubee Kader sendiri menikahi seorang putri raja Bukit yang bernama Sri Bulan Si Merah Mata. Proses peleburan diri itu telah berlangsung demikian rupa hingga lambat laun menjadi satu dengan penduduk, baik agamanya, bahasa maupun adat istiadatnya. []
*Penulis adalah Alumni Mahasiswa Pendidikan Sejarah Unsyiah

Kamis, 19 Januari 2012

Asal Usul Masyarakat Gayo

Oleh : Maya Agusyani, S.Pd*
Tanah Gayo adalah suatu daerah di belahan bumi sebelah utara garis khatulistiwa yang terletak di tengah-tengah propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gayo merupakan daerah sentral bagi daerah-daerah sekitarnya seperti Aceh Utara, Aceh Barat, Pidie, Aceh Timur dan Sumatera Utara. Terletak di tengah-tengah pegunungan daerah Aceh yang membujur dari utara ke bagian tenggara sepanjang bukit barisan bagian ujung pulau Sumatera.
Secara administrative, suku bangsa Gayo adalah orang-orang yang mendiami kabupaten yang disebut Aceh Tengah dan Bener Meriah. Penduduk daerah Gayo pada masa sekarang ini terdiri dari suku bangsa Gayo sendiri, yang juga berasal dari suku bangsa lain seperti Aceh, Jawa, Minangkabau bahkan orang-orang Cina, baik WNI maupun WNA yang menetap di Takengon.
Tetapi pada masa lampau penduduk daerah Gayo dibagi menjadi dua bagian, yaitu penduduk daerah Gayo yang bertempat tinggal di Kebayakan dan penduduk Gayo yang bertempat tinggal di Bebesan.
Kampung Kebayakan terletak di sebelah barat laut danau Laut Tawar. Sedangkan Kampung Bebesan terdapat di sebelah barat Kebayakan. Kedua kampung tersebut dihubungkan oleh jalan kurang lebih 1 Km.
Asal Usul
Dalam sejarah, penduduk yang mendiami kampun Kebayakan dan Bebesan merupakan kampung “inti” di Gayo Laut, mempunyai satu anggapan bahwa asal usul mereka berbeda. Penduduk kampung Kebayakan mengatakan mereka adalah penduduk asli di daerah Gayo ini.
Sedangkan yang satu pihak lagi, yakni penduduk kampung Bebesan, memang menyadari bahwa mereka berasal dari Batak (Tapanuli), lebih popular disebut dengan Batak 27 (disebut dengan Batak 27 karena dalam sejarah kedatangan mereka ke Gayo pada jaman lampau, orang-orang Batak ini berjumlah 27 orang).
Belum jelas pada abad berapa peristiwa kedatangan Batak Karo 27 tersebut ke Tanah Gayo. Namun, pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar, pada abad ke 16 M pernah tujuh pemuda dari tanah Karo bertamasya ke Tanah Gayo. Kedatangan mereka guna menyaksikan kebenaran keindahan laut tawar (H. AR. Latief, 1995 : 81).
Sementara menurut Dr. C. Snouck Hougronje, kedatangan Batak Karo 27 adalah pada masa kejuruan (raja) bukit telah memeluk Islam. Kejuruan Bukit adalah suatu bagian dari raja-raja yang terdapat di tanah Gayo yang memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan (kejuruan) lain.
Kedatangan orang-orang dari Tapanuli yang dikenal dengan istilah “Batak 27” ini melahirkan nama-nama Belah atau Clan di Gayo dengan nama yang hamper sama dengan marga yang ada di Tanah Karo sendiri. Seperti Clan Munthe, Cibero, Melala, Lingga, Tebe yang di Karo disebut Munthe, Sibero, Meliala dan sebagainya.
Batak 27 pada masa itu mendapat sebagian wilayah kekuasaan Raja Bukit sebagai diyat untuk mengganti kerugian akibat matinya suku Batak Karo yang terbunuh dalam peperangan.
Ganti rugi tersebut diwujudkan dengan membelah danau Laut Tawar menjadi dua sampai Kala Bintang sebelah utara termasuk daratan, mulai dari kampung Kebayakan, Rebe Gedung, Simpang Tiga, Delung Tue win Ilang hingga Ramung Kengkang perbatasan Aceh Timur (sekarang Kabupaten Bener Meriah, red) dan arah selatan sampai perbatasan Lingga.
Setelah batas wilayah ditentukan oleh kedua belah pihak yang berdamai, Raja Bukit ke II Panglima Perang Dagang mengajukan sebuuah tuntutan kampung bukit berikut bangunannya yang telah diduduki oleh Batak 27.
Raja Leube Keder berkata dengan tegas bebaskan, dalam bahasa Karo artinya dibebaskan dari tuntutan, lambat laun kata bebaskan berubah menjadi kata Bebesan sampai sekarang ini (AR. Latief, 1995). Raja Bukit Panglima Perang Dagang, kemudian bersumpah tidak berkeberatan kampung Bebesan berikut bangunannya dijadikan hak milik Batak 27.
Beberapa hari kemudian penduduk bukit sendiri membangun pemukiman baru yang terletak dipinggir Danau Laut Tawar yang sekarang disebut dengan daerah Kebayakan. Mula-mula kampung ini disebut dengan Kebanyakan karena penduduknya yang terbanyak, kemudian setelah penjajah Belanda datang dan tidak dapat menyebutkan nama kampung tersebut dengan tepat, berubah menjadi Kebayakan.
Marcopolo yang pernah singgah di Peureulak, Aceh Timur sekembali dari Cina menuju Italia tahun 1292 mengatakan bahwa penduduk Aceh telah memeluk agama Islam. Penduduk yang tidak mau memeluk agama Islam menyingkir ke pedalaman dan menjumpai kerajaan kecil di pedalaman tersebut.
Penduduk asli pedalaman ini menyebut daerahnya sebagai “Lainggow” dan menyebut rajanya dengan Ghayo-Ghayo atau raja gunung yang suci. Di daerah Lianggow tersebut telah berdiri kerajaan kecil, yaitu “Kerajaan Linggow” dan kerajaan besar yaitu kerajaan ‘Lingga’ dan sudah memiliki hubungan dengan kerajaan Peureulak di Aceh Timur dengan mengirim bingkisan (MH Gayo, 1983).
Adalah masuk akal jika catatan Marcopolo tersebut dipegang kebenarannya, maka dalam perkembangan sejarah selanjutnya penduduk pedalaman ini disebut dengan Suku Gayo.
Sementara itu ada pula orang yang beranggapan bahwa orang Gayo adalah berasal dari orang-orang yang lari dari daerah Peureulak, Aceh Timur ke daerah pedalaman karena tidak mau masuk Islam. Dan kata-kata Gayo sama artinya dengan kata-kata dalam bahasa Aceh, yaitu “Ka-yo” yang artinya “sudah takut.
Meskipun tidak ada penjelasan ilmiah mengenai hal ini, namun demikian jika dilihat dari letak daerah Gayo dalam peta Aceh, tidaklah mustahil jika orang-orang Gayo di zaman dahulu kala berasal dari penduduk daerah Peureulak, Aceh Timur atau daerah  Pasee, Aceh Utara melalui sungai-sungai yang hulunya berada di daerah Gayo di pedalaman.
Kemungkinan itu lebih besar lagi mengingat kedua daerah Peureulak dan Pasee berada di pinggir pantai Aceh yang menghadap ke Selat Melaka, yaitu daerah hubungan lalu lintas antar bangsa-bangsa yang ramai dalam sejarah di kawasan Asia Tenggara.
Komunitas Gayo
Hingga saat ini penduduk Gayo ini dibagi menurut daerah kediamannya. Suku Gayo disebut sebagai orang Gayo Laut atau Gayo Lut bagi mereka dan berdiam di sekitar Gayo Lues dan orang Gayo serba jadi bagi mereka yang berdiam diri di sekitar serba jadi sembung-lukup (sekarang Kabupaten Gayo Lues-red).
Selain itu masih ada orang-orang Gayo yang terdapat dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah-pisah yang berdiam di sekitar Aceh Timur dan sekitar perbatasan Aceh Timur-Sumatera Utara, seperti orang Gayo Kalul, orang Gayo Johar dan lain-lain. Sedangkan suku Alas berdiam di berbagai daerah tanah Alas yang berbatasan langsung dengan Gayo Lues, Asel, daerah Karo dan Sumatera Utara.
Islam Di Gayo
Memperhatikan keaneka ragaman penduduk Gayo yang tinggal di tanah Gayo, Aceh Tengah itu menunjukkan bahwa daerah gayo itu tidak menutup pintu bagi orang-orang yang hendak tinggal di sana. Kemungkinan besar bagi pendatang itu mendapat tempat yang layak dikalangan masyarakat, maka suatu dugaan keras bahwa masuknya Islam ke daerah Gayo di bawa oleh pendatang-pendatang.
Baik pendatang itu sebagai pedagang maupun sebagai mubaligh. Salah satu bukti yang dapat dilihat adalah adanya sebuah kuburan Ya’kub, saudara Misan dari Al-Malik Al-Kamil yang terdapat di desa Lingga. Ya’kub meninggal pada hari Jum’at, 15 Muharram 630 H (1232 M). Namun, untuk hal ini diperlukan lagi penelitian yang lebih mendalam.
Menurut Belanda, daerah Gayo adalah suatu daerah yang menentukan hidup matinya kekuasaan Belanda di Aceh. Sebab ketika Batee Iliek jatuh ke tangan Belanda, Sultan mundur ke Tanah Gayo yang bertepatan dengan disusunnya gerakan mempertahankan kemerdekaan yang dipimpin oleh Teungku Tapa sejak tahun 1898.
Rakyat Gayo yang menyadari Agresi Belanda sangat berbahaya, maka dengan serempak rakyat Gayo menaikkan bendera putih yang disebut “Pepanyi ni Umah”, panji tersebut dilukis dengan kalimah Allah, Rasul dan keempat sahabat. Panji-panji tersebut dinaikkan oleh rakyat di tiap-tiap rumahnya sebagai pertanda datangnya syaitan yang bermaksud menjahanamkan ummat Islam (Mohd. Said 1981: 632) sehingga rakyat Gayo dengan serta merta mengadakan perlawanan terhadap Belanda.
Batak 27 di Laut Tawar
Batak 27 yang datang ke Gayo mempunyai seorang pemimpin Batak Karo muslim dan seorang ulama yang arif dan bijaksana. Pemimpinnya tersebut bernama Leubee Kader yang merupakan cucu dari Adi Genali, anak dari Johansyah atau Sibayak Lingga (AR. Latief 1995 : 68) yang kemudian berhasil menjadi raja Bebesan yang pertama setelah menuntut diyat dari raja bukit. Setelah menguasai daerah dan masyarakat sekitarnya pun ikut memeluk agama Islam. Bahkan anggota Batak Karo itu ikut meleburkan diri dalam masyarakat Gayo melalui perkawinan.
Leubee Kader sendiri menikahi seorang putri raja Bukit yang bernama Sri Bulan Si Merah Mata. Proses peleburan diri itu telah berlangsung demikian rupa hingga lambat laun menjadi satu dengan penduduk, baik agamanya, bahasa maupun adat istiadatnya. []
*Penulis adalah Alumni Mahasiswa Pendidikan Sejarah Unsyiah

Kamis, 29 Desember 2011

RUANG LINGKUP ORGANISASI

A. Latar Belakang Muunculnya Organisasi
     Dewasa ini dalam ruang lingkup yang kecil saja sudah banyak terjadi hal-hal yang menyimpang, terlebih lagi ruang lingkup yang besar misalnya dalam salah satu lembaga formal resmi yang ada di Negara tersebut. Maka oleh sebab itulah terjadinya banyaknya permasalahan yang harus diselesaikan yang diakibatkan oleh perilaku yang tidak sesuai dalam ruang lingkup tersebut. Penyebab utama dari itu semua adalah kurangnya pemberian kesempatan untuk mengapresiasikan pendapat-pendapat yang bermunculan dalam ruang lingkup itu sendiri, yang kebanyakan hingga saat ini itu semua terjadi, baik di dalam maupun di luar ruang lingkup yang berhubungan dengan majmuk sosial.
      Hal tersebut di ataslah yang menyebabkan munculnya organisasi dalam kehiduapan sosial masyarakat, baik sosial masyarakat yang kecil maupun masyarakat yang besar.

B. Pengertian Organisasi
     Organisasi merupakan suatu wadah yang didirikan secara baik independen maupun non independen yang secara umum berfungsi untuk tempat wewenang mengeluarkan pendapat dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang di anggap penting bagi pelaku objek itu sendiri.

C. Syarat Mendirikan Organisasi
     Secara pokok syarat organisasi yaitu :
1. Ada AD&ART anggaran dasar dan anggaran rumah tangga , ini penting, agar sebuah ormas mempunyai aturan yang jelas dari domisili, nama ormas, arti logo/simbol, susunan pengurus dan tugas serta tanggung jawabnya etika-etika yang berkaitan dengan hak kewajiban dan sangsi bagi anggota dan pengurus sirkulasi keuangan dll.
2. Adanya pengurus, ini juga penting, agar setiap program yang dijalankan ada yang mengkoordinir dan bertanggung jawab, dari mengkonsep program, pembagian tugas bahkan bila perlu membentuk kepanitiaan.
3. Ada anggota, so pasti ! kalau tidak ada anggota siapa yang mau turun kelapangan , anggota sebagai ujung tombak dalam ormas yang berhadapan langsung dengan masyarakat atau simpatisan, yang mendengar secara langsung keluhan dan masukan dari masyarakat dan menjadi masukan berharga bagi organisasi.
4. Ada pembagian tugas yang jelas, ini juga penting lo ! supaya setiap personal yang terlibat dalam ormas tersebut tidak ngiri, dan tentunya pembagian tugas tersebut sesuai dan proporsional.
5. Ada program kerja, Nah ! ini adalah napas organisasi kalau organisasi tidak punya program maka semua personal akan jengah, bosan karena monoton, maka perlu diciptakan suasana suasana baru, dan eopurea untuk memunculkan ide ide kreatif dan selalu pasang telinga mendengar apa kemauan masyarakat yang bisa dikelola dan ditangani oleh organisasi, bila program menumpuk maka buatlah skala prioritas.
6. Ada tujuan, so pasti ! dan itu mesti /harus dan wajib kalo gak ada tujuan yang jelas, mau ngapain buat organisasi, mendingan tidur .
7. Ada kerja sama, Ingat KERJASAMA, bukan SAMASAMA KERJA, kerja sama berarti bekerja dalam satu kordinasi yang sudah terkonsep dengan jelas, pembagian tugas yang jelas dan tanggung jawab yang jelas, kalo samasama kerja, setiap kita setiap hari sama-sama kerja tapi kan tujuannya berbeda.

D. Ciri-ciri Organisasi
- Adanya komponen ( atasan dan bawahan)
- Adanya kerja sama (cooperative yang berstruktur dari sekelompok orang)
- Adanya tujuan
- Adanya sasaran
- Adanya keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati
- Adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas


E. Tujuan Organisasi 
1.Sebagai dasar bagi organisasi untuk mencapai hasil akhir.
2.Sumber legitimasi guna mendapat sumber daya.
3.Standart pelaksanaan.
4.Sumber motivasi
5.Dasar rasional pengorganisasian.
 
F.  Unsur Organisasi
1. Sebagai Wadah Atau Tempat Untuk Bekerja Sama
Organisasi adalah merupakan suatu wadah atau tempat dimana orang-orang dapat bersama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan tanpa adanya organisasi menjadi saat bagi orang-orang untuk melaksanakan suatu kerja sama, sebab setiap orang tidak mengetahui bagaimana cara bekerja sama tersebut akan dilaksanakan. Pengertian tempat di sini dalam arti yang konkrit, tetapi dalam arti yang abstrak, sehingga dengan demikian tempat sini adalah dalam arti fungsi yaitu menampung atau mewadai keinginan kerja sama beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pengertian umum, maka organisasi dapat berubah wadah sekumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu misalnya organisasi buruh, organisasi wanita, organisasi mahasiswa dan sebagainya.

2. Proses kerja sama sedikitnya antar dua orang 
Suatu organisasi, selain merupakan tempat kerja sama juga merupakan proses kerja sama sedikitnya antar dua orang. Dalam praktek, jika kerja sama tersebut di lakukan dengan banyak orang, maka organisasi itu di susun harus lebih sempurna dengan kata lain proses kerja sama di lakukan dalam suatu organisasi, mempunyai kemungkinan untuk di laksanakan dengan lebih baik hal ini berarti tanpa suatu organisasi maka proses sama itu hanya bersifat sementara, di mana hubungan antar kerja sama antara pihak-pihak bersangkutan kurang dapat diatur dengan sebaik-baiknya.

3. Jelas tugas kedudukannya masing-masing
Dengan adanya organisasi maka tugas dan kedudukan masing-masing orang atau pihak hubungan satu dengan yang lain akan dapat lebih jelas, dengan demikian kesimpulan dobel pekerjaan dan sebagainya akan dapat di hindarkan. Dengan kata lain tanpa orang yang baik mereka akan bingung tentang apa tugas-tugasnya dan bagaimana hubungan antara yang satu dengan yang lain.

4. Ada tujuan tertentu
Betapa pentingnya kemampuan mengorganisasi bagi seorang manajer. Suatu perencana yang kurang baik tetapi organisasinya baik akan cenderung lebih baik hasilnya dari pada perencanaan yang baik tetapi organisasi tidak baik.

Senin, 19 Desember 2011

PENDUDUK INDONESIA TERTUA DAN PERSEBARAN BANGSA-BANGSA DALAM ZAMAN PREHISTORI

05 Okt

Manusia di Indonesia yang tertua sudah ada kira-kira satu juta tahun yang lalu, waktu Dataran Sunda masih merupakan daratan, waktu Asia Tanggara bagian benua dan bagian kepulauan masih tersambung menjadi satu. Penduduk Dataran Sunda itu memiliki ciri fisik yang berbeda dari manusi sekarang ini, sisa-sisanya adalah beberapa fosil yang ditemukan di lembah Bengawan Solo. Fosil-fosil itu oleh para ahli disebut Pithecanthropus Erectus, fosil ini juga ditemukan di sebuah gua dekat Peking, dan beberapa Asia Timur.
Karena waktu bentuk fisiknya sudah berevolusi, sehingga menampakkan cirri-ciri yang berbeda. Sejumlah fosil yang telah mengalami evolusi ditemukan di desa Ngandong dan para ahli menyebutnya sebagai Homo Soloensis. Homo Soloensis itu dalam beberapa tahun kemudian mereka berevolusi menjadi manusi asekarang, tetapi dengan ciri-ciri ras yang menyerupai penduduk asli Australia. Sisa-sisa fosil dari perubahan Homo Soloensis di temukan dis uatu tempat bernama Wajak, para ahli menyebutnya Homo Wajakensis. Fosil itu juga banyak ditemukan di daerah Talgai, Darling Downs, Queensland,yang dipercaya sebagai nenek monyang penduduk asli Australia.
Persebaran manusia dengan ciri-ciri Austro-Melanesoid.
Nenek moyang dari manusia Wajak tersebut diatas, sebelumnya sudah ada yang menyebar ke arah barat dan ke arah timur Nusantara. Mereka yang menyebar ke arah timur menduduki Irian. Meraka hidup dalam kelompok-kelompok kecil di daerah muara-muara sungai di mana mereka hidup dengan menangkap ikan di sungai, dan meramu tumbuh-tumbuhan. Pada masa sekarang bekas-bekas itu dapat ditemukan di daerah Teluk McCluer dan Teluk Triton di kepala Cendrawasih. Bekas-bekas itu berupa tempat-tempat perlindungan di bawah karang atau yang disebut abris sous roches.
Di bagian barat dari Nusantara orang Austro-Melanesoid, mengembangkan suatu kebudayaan yang pada dasarnya sama dengan kelompok yang dihidup di Irian. Mereka juga mengembangkan perkampungan abris sous roches. Adapun perbedaan dengan kelompok di Irian adalah mereka menggunakan kapak genggam yang mempunyai suatu sisi bekas pecahan yang kasar dan suatu sisi luar yang lebih halus. Kapak itu sering diasah pada bagian tajamnya.
Persebaran dari manusia Austro-Melanesoid yang makan kerang, dapat direkontruksi dari adanya timbunan sisa-sisa kulit kerang yang di sebut kjokkenmoddinger atau sampah dapur. Sekarang tempat-tempat yang berupa bukit-bukit kerang dan ditandai dengan adanya kapak genggam yang bagian tertentunya tajam. Banya dijumpai di Aceh, Kedah dan Pahang di Malaysia. Kecuali itu k[ak-kapak itu juga ditemukan di Jawa Timur, tetapi juga di Vietnam Utara, ialah di Pengunungan Bacson, dan di gua-gua dari Propinsi Hoa-binh, Hoa-nam, dan Tan-Hoa. Justru penemuan-penemuan alat-alat prehistoris yang berpusat kepada alat genggam itu tadi disebut alat-alat Bacson-Hoabinh.
Fosil-fosil manusia yang sering ditemukan bersamaan dengan alat-alat Bacson-Hoabinh tadi, seperti misalnya di gua Sodong dan Samoung di Jawa Timur, di bukit kerang di Aceh, dan Di gua Kepah di Malaysia Barat, menunjukkan secara dominan ciri-ciri Austro-Melanesoid, sungguh pun bercampur ciri-ciri ras Mongoloid. Justru karena itulah Koentjaraningrat condong untuk menyimpulkan bahwa adanya persebaran dari timur ke barat dari manusia Austro-Melanesoid berasal dari Jawa, melalui Sumatera, Semenanjung Malayu dan Muang Thai sampai Vietnam Utara.
Pengaruh ciri-ciri Mongoloid. Dari manakah kiranya asalnya ciri-ciri Paleo-Mongoloid yang tampak pada penduduk kuno di Indonesia tersebut. Ciri-ciri itu mungkin bersal dari Asia. Satu kemungkinan adalah melalui jalan yang dilalui oleh orang Austro–Melanesoid yang ke arah barat dan utara, di mana orang-orang dengan cirri-ciri Mongoloid bercampur dengan orang-orang Austro-Melanesoid. Dengan demikian
Perpindahan/Migrasi Bangsa-bangsa ke Indonesia
Sebelum Anda membahas lebih jauh uraian materi migrasi bangsa-bangsa ke Indonesia, alangkah baiknya Anda perhatikan terlebih dahulu gambar 1 yang merupakan peta rute atau arah penyebaran kapak persegi dan kapak lonjong (kebudayaan Neolithikum) ke Indonesia.
Gambar 1. Alur Penyebaran Kebudayaan Neolithikum di Indonesia.
Dari gambar 1 di atas, tentu Anda mempunyai suatu gambaran bahwa kebudayaan Neolithikum yang berupa kapak persegi dan kapak lonjong yang tersebar ke Indonesia tidak datang/menyebar dengan sendirinya, tetapi terdapat manusia pendukungnya yangberperan aktif dalam rangka penyebaran kebudayaan tersebut.
Manusia pendukung yang berperan aktif dalam rangka penyebaran kebudayaan itulah merupakan suatu bangsa yang melakukan perpindahan/imigrasi dari daratan Asia ke Kepulauan Indonesia bahkan masuk ke pulau-pulau yang tersebar di Lautan Pasifik.
Dari penjelasan di atas tentu Anda ingin mengetahui dari mana, asal bangsa-bangsa yang berimigrasi ke Indonesia? Untuk itu silahkan Anda perhatikan gambar 2 berikut ini.
Gambar 2 Alur Perpindahan Bangsa-bangsa.
Bangsa yang berimigrasi ke Indonesia berasal dari daratan Asia tepatnya Yunan Utara bergerak menuju ke Selatan memasuki daerah Hindia Belakang (Vietnam)/Indochina dan terus ke Kepulauan Indonesia, dan bangsa tersebut adalah:
  1. Bangsa Melanesia atau disebut juga dengan Papua Melanosoide yang merupakan rumpun bangsa Melanosoide/Ras Negroid. Bangsa ini merupakan gelombang pertama yang berimigrasi ke Indonesia.
  2. Bangsa Melayu yang merupakan rumpun bangsa Austronesia yang termasuk golongan Ras Malayan Mongoloid. Bangsa ini melakukan perpindahan ke Indonesia melalui dua gelombang yaitu:
    1. Gelombang pertama tahun 2000 SM, menyebar dari daratan Asia ke Semenanjung Melayu, Indonesia, Philipina dan Formosa serta Kepulauan Pasifik sampai Madagaskar yang disebut dengan Proto Melayu. Bangsa ini masuk ke Indonesia melalui dua jalur yaitu Barat dan Timur, dan membawa kebudayaan Neolithikum (Batu Muda)
    2. Gelombang kedua tahun 500 SM, disebut dengan bangsa Deutro Melayu. Bangsa ini masuk ke Indonesia membawa kebudayaan logam (perunggu).
Tabel Migrasi Bangsa-Bangsa ke Indonesia
Gelombang Migrasi
Jenis Bangsa
Rumpun Bangsa
Jenis Ras
Jenis Bangsa Prasejarah Indonesia
Dengan adanya migrasi/perpindahan bangsa dari daratan Asia ke Indonesia, maka pada zaman prasejarah di Kepulauan Indonesia ternyata sudah dihuni oleh berbagai bangsa yang terdiri dari:
  1. Bangsa Melanisia/Papua Melanosoide yang merupakan Ras Negroid memiliki ciri-ciri antara lain: kulit kehitam-hitaman, badan kekar, rambut keriting, mulut lebar dan hidung mancung. Bangsa ini sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa keturunannya seperti Suku Sakai/Siak di Riau, dan suku-suku bangsa Papua Melanosoide yang mendiami Pulau Irian dan pulau-pulau Melanesia.
  1. Bangsa Melayu Tua/Proto Melayu yang merupakan ras Malayan Mongoloid memiliki ciri-ciri antara lain: Kulit sawo matang, rambut lurus, badan tinggi ramping, bentuk mulut dan hidung sedang. Yang termasuk keturunan bangsa ini adalah Suku Toraja (Sulawesi Selatan), Suku Sasak (Pulau Lombok), Suku Dayak (Kalimantan Tengah), Suku Nias (Pantai Barat Sumatera) dan Suku Batak (Sumatera Utara) serta Suku Kubu (Sumatera Selatan).
  2. Bangsa Melayu Muda/Deutro Melayu yang merupakan rasa Malayan Mongoloid sama dengan bangsa Melayu Tua, sehingga memiliki ciri-ciri yang sama. Bangsa ini berkembang menjadi Suku Aceh, Minangkabau (Sumatera Barat), Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis dan Makasar di Sulawesi dan sebagainya. 
    SUMBER :
    http://sejarawan.wordpress.com/2007/10/05/penduduk-indonesia-tertua-dan-persebaran-bangsa-bangsa-dalam-zaman-prehistori/

Ceruk Mendale dan Kekeberen, Dua Sumber Sejarah Asal-usul Gayo yang Tidak Sinkron

Published on June 30, 2011 by   ·   2 Comments :: 2,848 Views
Win Wan Nur*

Penemuan kerangka manusia pra Sejarah berusia 6500 tahun di Ceruk Mendale tampak memunculkan kegairahan baru di Gayo untuk melacak asal-usul suku Gayo. Banyak orang yang ingin menjadikan penemuan itu sebagai bukti bahwa Gayo adalah penduduk pertama yang menghuni Aceh.
Ada banyak yang komentar yang bermunculan tentang penemuan itu. Beberapa komentar terdengar logis, tapi tidak sedikit pula komentar yang mengaitkan penemuan itu dengan kekeberen (dongeng-dongeng) tentang asal-usul Gayo. Seringkali terlihat pengkaitan itu tidak sinkron bahkan kontradiktif dengan kronologi sejarah. Karena itulah melalui tulisan ini saya mencoba untuk menyusun kronologi sejarah ini secara benar.
Untuk memahami kronologi sejarah kerangka yang ditemukan di ceruk Mendale ini. Marilah kita memfokuskan perhatian kita ke angka 6500 yang menunjukkan usia kerangka yang ditemukan itu. 6500 tahun adalah masa yang sangat singkat dan dikategorikan modern kalau dipandang dari sudut pandang geologi. Tapi itu adalah masa yang sangat lama sekali jika dipandang dari sudut pandang sejarah peradaban manusia.
Pada masa itu, berdasarkan bukti berbagai penemuan arkeologi. Wilayah Asia Tenggara dihuni oleh suku-suku ras negroid yang peradabannya dikenal dengan peradaban Hoa Binh-Bacson, merujuk pada dua tempat yang berada di Tonkin Vietnam. Tempat bukti arkeologi tentang peradaban ras ini pertama kali ditemukan.
Sekitar 4500-3500 tahun yang lalu, melalui serangkaian proses migrasi yang panjang. Ras mongoloid berbahasa Austronesia berdatangan dari daratan asia mengisi wilayah Asia Tenggara ini. Mereka inilah yang dikenal sebagai Proto-Malay atau Melayu Tua.
Ada berbagai teori mengenai asal-usul bangsa Melayu Tua ini. Teori yang paling terkenal dan paling banyak dianut oleh ahli sejarah adalah “Teori Yunnan”. Menurut teori ini, bangsa Melayu Tua bermigrasi dari sungai Mekong. Teori Yunnan ini didukung oleh para ahli sejarah antara lain R.H Geldern., J.H.C Kern, J.R Foster, J.R Logen, Slamet Muljana dan Asmah Haji Omar.
Bukti-bukti yang mendukung teori ini antara lain ditemukannya, peralatan-peralatan dari batu  di berbagai tempat di kepulauan nusantara, yang persis seperti peralatan yang sama yang ditemukan di Asia tengah. Kemudian teori ini juga didukung oleh bukti kemiripan adat-istiadat bangsa Melayu Tua dengan adat istiadat bangsa Assam dan juga fakta bahwa bahasa suku-suku Melayu Tua memiliki banyak kemiripan dengan bahasa orang Kamboja yang nenek moyangnya berasal dari hulu sungai Mekong.
Suku-suku Melayu Tua ini diyakini sebagai bangsa pelaut dan memiliki teknologi penangkapan ikan dan teknologi pertanian yang terbilang maju pada zamannya. Karena kemampuan inilah mereka bisa berpindah dalam jarak yang luar biasa jauh. Terbentang dari kepulauan Hawaii sampai Madagaskar.
Memang ada bukti ilmiah baru yang disampaikan oleh HUGO (Human Genome Organization) melalui sebuah penelitian genetik tentang ras Asia yang menunjukkan adanya sebuah migrasi dari Asia Tenggara yang bergerak ke utara dan kemudian mendiami Asia Timur. Bukan sebaliknya. Tapi juga sangat banyak bukti bahwa sebelum ada ras mongoloid, Asia Tenggara ini dihuni oleh Ras Negroid. Kedatangan ras mongoloid ke Asia Tenggara ini, mendesak ras negroid yang sebelumnya menghuni wilayah ini, sampai jauh ke timur dan akhirnya terkonsentrasi di sekitar Papua dan Australia.
Ketut Wiradnyana, ketua tim peneliti dalam kegiatan penggalian Ceruk Mendale ini, kepada saya mengatakan kalau kerangka yang ditemukan itu memiliki ciri-ciri campuran mongoloid dan negrito.
Jadi apakah kerangka yang ditemukan di ceruk Mendale itu adalah kerangka nenek moyang orang Gayo yang sekarang?
Kalau merujuk pada angka 6500 yang menunjukkan tahun usia kerangka yang ditemukan. Kemudian kisah dalam kekeberen yang kita jadikan rujukan, jawabannya jelas BUKAN!
Memang pada kisah kekeberen , kita tidak akan bisa menemukan angka tahun pada kisah yang diceritakan, jadi secara kronologi sejarah. Kapan kisah dalam kekeberen itu terjadi tidak dapat secara tepat kita ketahui. Tapi, berdasarkan isi kisah itu. Berdasar momen-momen dan istilah yang diceritakan dalam kisah itu. Kita bisa menelusuri titik terjauh saat momen  dalam kisah itu bermula dan titik terjauh kapan istilah yang dipakai dalam kekeberen itu mulai dikenal manusia.
Berdasarkan penelusuran seperti inilah kita bisa memastikan. Kalau kekeberen yang ada di Gayo yang kita jadikan rujukan. Semuanya menunjukkan bahwa orang Gayo adalah penghuni yang sangat baru di pulau Sumatra. Karena informasi yang kita dapat berbagai rujukan itu semua berdasarkan kisah-kisah yang sudah kentara berbau Islam yang baru masuk ke Aceh pada paruh milenium kedua. Jadi jelas sama sekali tidak ada hubungan dengan kerangka yang ditemukan di Ceruk Mendale. Bayangkan, Rasulullah Muhammad SAW saja lahir 5000 tahun sesudah pemilik kerangka di Ceruk Mendale meninggal.
Dalam kekeberen yang dikisahkan secara temurun dari mulut, ada banyak kisah yang merujuk asal-usul orang Gayo ke negeri Rum alias Turki. Kisah seperti ini yang disampaikan dalam bentuk seperti puisi, contohnya seperti di bawah ini;
Anak ni reje Rum ari Ujung Acih …… Anak Raja negeri RUM dari Ujung Aceh
Bersarung gunur …………………. Di Gayo, yang dimaksud dengan sarung adalah seliput yang melindungi bayi di dalam  perut. Gunur sendiri sejenis timun (atau labu?) dengan ukuran kira-kira sebesar semangka.
Gere betih lintang ………………. Entah melintang
Gere betih bujur…………………. Entah membujur
Gere murupe lagu manusie………….. Tidak mirip manusia
Dalam kisah ini diceritakan, karena malu. Permaisuri raja Rum, berencana menghanyutkan sang anak ke laut (mirip kisah nabi musa). Tapi kemudian sang suami punya ide yang lebih baik. Anak tersebut digantungkan pada layang-layang dan dibawa terbang sampai ke langit.
Di sini yang perlu kita soroti adalah negeri RUM yang berasal dari kata “Romawi”, yang beribukota Istanbul, ibu kota Turki sekarang adalah ibukota dari kerajaan Byzantium yang sebelumnya dikenal dengan nama Romawi Timur.
Sejarah berdirinya Romawi Timur ini diawali dari kekacauan di dunia Romawi yang memakan korban lima kaisar dalam sepuluh tahun. Kekacauan itu berhenti setelah DIOCLETIANUS naik ke tahta kekaisaran dan membagi kekaisaran Romawi yang luas menjadi Romawi Barat yanng berpusat di Roma dan Romawi Timur yang berpusat di Turki sekarang. Diocletianus sendiri memilih berkuasa di Timur, sementara Kekaisaran Barat dia berikan kepada temannya Maximilianus yang dalam sejarah dikenal sebagai Kaisar Augustus. Anak dari Diocletianus, bernama Konstantinus yang menganut kristen yang dia warisi dari Ibunya, menggantikannya sebagai Kaisar dan menjadi Kaisar kristen pertama. Konstantinus inilah yang mendirikan  KONSTANTINOPEL ibukota Romawi Timur yang dinamakan berdasarkan namanya sendiri. Kota ini diresmikan pada tanggal 11 Mei 330 m.
Pada masa itu suku Turki sendiri masih merupakan suku pengembara yang hidup di Asia Tengah.
Diantara suku-suku bangsa Turki itu terdapat suku Uighur Aksulik, Kashgarlik, Uyghur, Uigur dan Turfanlik yang pada tahun 840 keluar dari Mongolia melalui Kyrzyg dan menyebar ke banyak arah termasuk Cina. Entah bagaimana ceritanya, kadang-kadang orang Gayo juga berspekulasi bahwa mereka berasal dari suku Uighur yang juga disebut suku Hui ini. Dan sekali lagi kalau kekeberen ini dijadikan rujukan, jelas sama sekali tidak kena dengan kerangka yang ditemukan di Ceruk Mendale.
Konstantinopel baru ditaklukkan oleh Turki Islam pada tahun 1453 dan penguasa baru ini menguasai seluruh kekuasaan Byzantium, dan mengubah nama kota Konstantinopel menjadi Istanbul. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan negara Turki.
Jadi kalau kita telusuri asal mulanya. Sebenarnya kisah kekeberen yang memuat tentang negeri RUM ini bermula lebih jauh dari 1600-an. Ketika Portugis mulai berlayar ke Nusantara. Ketika Kerajaan Aceh yang memeluk Islam meminta pertolongan Turki untuk memerangi Portugis yang Kristen. Turki yang merupakan kekhalifahan Islam terbesar saat itu menyambut permintaan Aceh dengan mengirimkan ahli strategi perang dan sebuah meriam. Aceh kemudian menang dalam perang melawan portugis itu dan sebagai dampak ikutannya, Turki pun jadi sedemikian dipuja di Aceh dan seluruh dunia Melayu (baca buku Anthony Reid, History of Sumatra).
Sejak saat itu raja-raja sampai pemimpin kecil suku-suku di Aceh dan seluruh dunia Melayu mulai merujuk silsilah mereka sampai ke raja-raja di Turki yang di dunia melayu sering disebut sebagai negeri RUM.
Kisah lain tentang asal-usul suku Gayo ini mirip dengan cerita Nabi Nuh tentang banjir besar, tapi jelas secara kronologis sejarah ini tidak mungkin di masa nabi Nuh, karena saat itu sudah ada istilah Selten (Sultan) seperti yang diceritakan melalui pantun di bawah ini.
Surut ni waih pe le……………….. Air mulai surut
Tikik-tikik teduh ni waih………….. Air berhenti (mengalir) sedikit demi sedikit
i ujung Acih……………………… Di ujung Aceh
Oya kati si abangen i Linge………… Itulah sebabnya abangnya di Linge
Si nensu Acih kerna oya……………. Karena itulah Aceh menjadi bungsu
Anak ni Selten Genali si Ude……….. Anak Sultan Genali dari Istri muda
Si Linge anaken si ulubere…………. Di Linge anak yang pertama
Yang menarik dalam kisah ini ada, sebutan “Selten Genali” (Sultan Genali) di sana. Seberapa tua kisah ini bisa kita telusuri dari sejarah kapan istilah Sultan ini mulai dikenal manusia.
Istilah Sultan baru ada pada tahun 1037 Masehi. Berawal dari ketika pasukan Turki Seljuk di bawah pimpinan Tughril Bey (Cucu dari Seljuk), menyerang Baghdad. Khalifah yang ketakutan dengan berbagai cara diplomasi yang lihai membujuk Thuhril Bey (kadang disebut Tughril Beg), orang turki Islam yang tidak bisa berbahasa Arab ini agar tidak membumi hanguskan Baghdad. Dan salah satu caranya adalah, Khalifah memberinya gelar SULTAN , yang berarti pejabat tertinggi. Jadi jelas usia kekeberen di atas masih sangat muda dan sama sekali tidak sinkron dengan sejarah kerangka manusia berusia 6500 tahun yang ditemukan di Ceruk Mendale.
Kalau peradaban mainstream, Eurasia yang kita jadikan rujukan. Masa ketika pemilik kerangka di Ceruk Mendale itu hidup kira-kira sama dengan masa ketika peradaban baru mulai muncul di daratan Eurasia. Ketika bangsa Sumeria membangun kota-kota bernama Kish, Lagash, Eridu, dan Uruk. Yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 3300 SM.
Pada masa yang sama bangsa SEMIT yang menjadi nenek moyang orang Arab dan Yahudi tinggal di Kanaan. Bangsa Semit baru muncul ke permukaan dan dikenal dalam sejarah peradaban ketika pada tahun 2370 SM (Lebih dari 2000 tahun setelah pemilik kerangka di Ceruk Mendale meninggal) Sargon dari Agade memimpin pemberontakan yang menggulingkan raja Kish. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kronologi sejarahnya, 2000 tahun setelah pemilik kerangka di Ceruk Mendale meninggal. Bangsa Arab dan Bangsa Yahudi saja belum ada.
Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan Bangsa Yahudi , diperkirakan hidup sekitar 1800 SM (2700 tahun setelah pemilik kerangka di Ceruk Mendale meninggal). Bersamaan dengan saat Hammurabi mendirikan Babilonia.
Jadi, berbagai kekeberen tentang asal-usul Gayo yang memiliki ‘bau-bau’ Islam ini, jelas masih sangat baru kalau dibandingkan dengan sejarah kerangka yang ditemukan di Ceruk Mendale.
Menarik juga untuk kita ketahui, kenapa orang Gayo suka sekali mengaitkan silsilahnya dengan bangsa besar dalam sejarah. Kalau kita membaca berbagai penelitian antropologis tentang Gayo, mulai dari Hurgronje sampai Bowen. Kita dapat menyimpulkan bahwa fenomena ini terjadi karena karakter sosiopolitik Gayo yang khas, dimana otoritas kekuasaan didasarkan pada hubungan kekerabatan.
Kalau Aceh kita jadikan sebagai pembanding. Kita akan segera melihat kalau kekuasaan RAJA di Gayo tidak sebesar kekuasaan RAJA di Aceh. Kalau di Aceh, raja memiliki otoritas yang sangat kuat dan berdasarkan teritorial. Sosiopolitik Aceh mengembangkan sikap takut dan hormat dari rakyat kepada penguasa. Sementara di Gayo seorang raja hanya bisa melakukan apa yang dia mau, sepanjang para kerabat setuju. Jadi, RAJA dalam pengertian seseorang yang memiliki otoritas penuh sama sekali tidak dikenal di dalam kebudayaan Gayo. Sepanjang sejarahnya, setiap reje di kampung-kampung di Gayo, selalu mendapat koreksi kalau kebijakannya tidak disukai oleh masyarakat. Gayo people, “true republican”, are born egaliterian. Tulis Bowen dalam bukunya Sumatran Politics and Poetics, Gayo History 1900 – 1989. Karakter sosiopolitik seperti inilah yang menjelaskan perilaku politik orang Gayo yang sampai hari ini seolah tidak menghormati pemimpin. Itu terjadi karena semua orang Gayo merasa setara (born egaliterian). Di Gayo, seorang penguasa tidak pernah benar-benar ditakuti dan dihormati secara berlebihan. Orang Gayo adalah salah satu suku di Indonesia yang paling sulit menerima kenyataan bahwa ada orang sesukunya yang lebih hebat dari dirinya.Karena karakter yang egaliter seperti inilah, meskipun di Gayo ada istilah REJE yang secara harfiah berarti raja. Tapi pada hakikatnya seorang raja di Gayo itu hanyalah seorang “Presiden” di sebuah republik kecil. Apapun kebijakan penguasa yang tidak sesuai dengan kemauan rakyat, orang Gayo akan mengkritiknya dan fenomena itu terjadi sampai hari ini.
Keterbatasan otoritas inilah yang kemudian membuat penguasa Gayo mengembangkan kisah-kisah yang merujuk silsilahnya kepada tokoh-tokoh atau bangsa besar dalam sejarah. Karena memang hanya dengan cara inilah, seorang penguasa di Gayo bisa sedikit dihormati oleh masyarakatnya yang semuanya merasa tidak kurang hebat dari sang penguasa.
Kalau kekeberen yang dijadikan rujukan, masa terjauh yang bisa kita telusuri adalah Kekeberen si Dewajadi sebagai sebagaimana diceritakan oleh Nyaq Putih kepada Hazeu pada tahun 1905. (Di dalam kultur Batak kisah yang sama dikenal dengan kisah Dewa Mula Jadi). Kekeberen si Dewa Jadi ini berkisah tentang seseorang di daratan Asia yang memiliki layangan yang sangat besar, diterbangkan angin bersama layangannya sampai ke Gayo (lihat kemiripannya dengan kekeberen pertama).
Apa yang bisa kita lihat dari kisah ini adalah; saat itu layang-layang sudah dikenal dan dari nama sang tokoh, kentara sekali terlihat pengaruh Hindu. Mengingat pengaruh Hindu baru mulai menyebar di kepulauan Nusantara ini pada abad ke I. Artinya 4500 tahun setelah pemilik kerangka di Ceruk Mendale meninggal. Pengaruh hindu ini masih bisa kita lihat pada aksara Batak yang berakar pada huruf-huruf yang memiliki pengaruh sanskerta. Gayo juga dipercaya dulunya memiliki huruf-huruf seperti ini, tapi semuanya lenyap seiring dengan diterimanya agama Islam dan Gayo pun mulai mengenal huruf Arab dan menganggap semua peradaban sebelumnya sebagai peradaban kafir.
Jadi kalau kita cermati angka 6500 yang menunjukkan angka tahun meninggalnya pemilik kerangka di Ceruk Mendale itu. Semua sejarah bahkan kekeberen Gayo, jadi terdengar seperti kisah kemaren sore.
Apalagi kalau keberadaan kerangka itu dikaitkan dengan cerita Batak 27 yang katanya bukan penduduk asli di Gayo. Jelas ini menjadi semakin lucu, karena istilah BATAK sendiri sebenarnya adalah klasifikasi yang diberikan oleh orang Aceh untuk membedakan penduduk pedalaman berdasarkan Agama. Penduduk pedalaman yang bersedia menerima Islam adalah Gayo, sisanya oleh orang Aceh diklasifikasikan sebagai Batak (baca Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia oleh Anthony Reid). Dan kejadian itu baru terjadi sekitar tahun 1200-1300-an, bahkan mungkin lebih baru lagi. Jauh sebelumnya, Batak dan Gayo itu jelas sebuah entitas yang sama yang hanya berbeda di detail-detail kecil budaya dan kebiasaannya.
Jadi bukankah terdengar sangat konyol secara logika, kalau test DNA yang akan dicocokkan dengan kerangka yang ditemukan di Ceruk Mendale itu hanya mengambil sampel DNA suku Gayo yang dipercaya sebagai suku Gayo asli dengan mengesampingkan suku Gayo yang dianggap sebagai keturunan Batak 27.
Hal ini sangat konyol, secara logika.Karena kerangka itu berusia 6500 tahun, lebih dari 2700 Tahun sebelum nabi Ibrahim yang merupakan bapak dari Bangsa Arab dan Bangsa Yahudi lahir. Sementara Gayo menjadi entitas yang terpisah dengan Batak baru 800 Tahun. Jadi selama 5700 tahun sebelumnya (dengan menjadikan usia kerangka sebagai acuan) Batak adalah Gayo, dan sebaliknya Gayo adalah Batak.
*Orang Gayo Asal Isaq
Referensi :
Byzantium, The Early, Norwich, John J. 1996
Byzantium, Decline and Fall, Norwich, John J. 1996
Gajosch-Nederlandchs Woordenboek. Hazeu, G.A.J. 1907
History of Hebrew People, CA Barton
Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia, Anthony Reid 2010
Nusantara, A History of Indonesia, Vlekke Bernard.1960
Sumatran Politics and Poetics, Gayo History 1900-1989. Bowen, John. R. 1991
Tanah Gayo dan penduduknya. C. Snouck Hurgronje, 1996
The Greatness That Was Babylon, HWF Saggs
The Indianized State of South East Asia, W. Vella .1968
The Seljuks in Asia Minor, Frederick A Fraeger .1961
The Sumerian, SN Kramer
http://the_uighurs.tripod.com/hist.htm
http://sejarawan.wordpress.com/2007/10/05/penduduk-indonesia-tertua-dan-persebaran-bangsa-bangsa-dalam-zaman-prehistori/
http://en.wikipedia.org/wiki/Proto-Malay
http://aalmarusy.blogspot.com/2010/09/kebudayaan-bacson-hoabinh-dan-dong-son.html
http://anthropologist.livejournal.com/1315039.html

ACEH

Sebagai anak Aceh asli kali ini Saya akan kenalkan suku-suku yang mendiami Aceh :

1. Suku Aceh
Suku Aceh tersebar hampir di seluruh wilayah aceh mulai Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireun, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Jaya, Aceh barat, dan sebagian Aceh tamiang, Aceh Barat Daya, Nagan Raya dan Aceh Selatan. Bahasa yang dipertuturkan adalah Bahasa Aceh, dan penduduknya mencapai 3,5 juta dan 100% beragama Islam, mata pencaharian utama adalah sektor pertanian, kelautan, dagang dan perkebunan. salah satu andalannya adalah kopi ulee kareng yang berkualitas ekspor.

2. Suku Gayo
Suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi di provinsi Aceh. Suku Gayo sebagian besar mendiami tiga kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Bener Meriah dan kabupaten Gayo Lues. Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya. Suku Gayo menggunakan bahasa yang disebut bahasa Gayo, Jumlah populasinya mencapai 250.000 jiwa.
Karena berada di daerah dataran tinggi, maka mata pencaharian utamanya adalah bertani dan berkebun dengan hasil utamanya kopi. Mereka juga mengembangkan kerajinan membuat keramik, menganyam, dan menenun. Kerajinan lain yang cukup mendapat perhatian adalah kerajinan membuat sulaman kerawang Gayo, dengan motif yang khas.

3. Suku Alas
Suku Alas merupakan salah satu suku yang bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara. Kata "alas" dalam bahasa Alas berarti "tikar". Hal ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela pegunungan Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satu diantaranya adalah Lawe Alas( Sungai Alas). Tanah Alas merupakan lumbung padi untuk daerah Aceh. Tapi selain itu mereka juga berkebun karet, kopi,dan kemiri, serta mencari berbagai hasil hutan, seperti kayu, rotan, damar dan kemenyan. Sedangkan binatang yang mereka ternakkan adalah kuda, kambing, kerbau, dan sapi.
Suku Alas 100% adalah penganut agama Islam. Namun masih ada juga yang mempercayai praktek perdukunan misalnya dalam kegiatan pertanian. Mereka melakukan upacara-upacara dengan latar belakang kepercayaan tertentu agar pertanian mereka mendatangkan hasil baik atau terhindar dari hama.

4. Suku Aneuk Jamee
Suku Aneuk Jamee adalah sebuah suku yang tersebar di sepanjang pesisir barat Aceh. Dari segi bahasa, mereka diperkirakan masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau dan menurut cerita, mereka memang berasal dari Ranah Minang. Orang Aceh menyebut mereka sebagai Aneuk Jamee yang berarti tamu atau pendatang.
Umumnya mereka berkonsentrasi di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya dan sebagian kecil di Aceh Besar. Namun sebagian besar diantaranya berdiam di sepanjang pesisir selatan Aceh, meliputi Aceh Selatan hingga ke Aceh Barat Daya. Mata pencaharian penduduk disini sebagian besar adalah tani dan nelayan, ada juga yang berkebun dan hasil perkenunan disini yang berkualitas ekspor adalah Pala.

5. Suku Melayu Tamiang
Suku Melayu ini sebagian besar berdiam di kabupaten Aceh Tamiang. Mereka mempunyai kesamaan dialek dan bahasa dengan masyarakat Melayu yang tinggal di kabupaten Langkat Sumatra Utara serta berbeda dengan masyarakat Aceh. Meski demikian mereka telah sekian abad menjadi bagian dari Aceh.Dari segi kebudayaan, mereka juga sama dengan masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera lainnya. Jumlah penduduknya kurang lebih 200.000 jiwa.
Mata pencaharian penduduk adalah dari segi perkebunan kelapa sawit.
6. Suku Kluet
Suku Kluet mendiami beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan, yaitu kec.kluet utara, kec.kluet tengah dan kecamatan kluet selatan serta kecamatan kluet timur. Suku Kluet mayoritas beragama Islam. Daerah Kluet ini dipisahkan oleh sungai Lawé Kluet yang berhulu di Gunung Leuser dan bermuara di Lautan Hindia. Wilayah kediaman orang Kluet ini terletak di pedalaman berjarak 20 km dari jalan raya, 50 km dari kota Tapak Tuan. bahasa Kluet terbagi atas 3 dialek yaitu Dialek Paya Dapur, Manggamat dan Krueng Kluet. Mata pencahariannya umumnya adalah bertani, berladang dan berkebun.

7. Suku Devayan
Suku Devayan merupakan suatu suku bangsa yang mendiami sebagian besar pulau simeulue di Kabupaten Simeulue. Dengan Jumlah penduduk sekitar 50.000 jiwa dan daerah yang masih terisolir maka sebagian besar penduduknya bermata pencaharian nelayan dan berkebun. Salah satu hasil perikanan yang terkenal adalah udang Lobster (udang laut)

8. Suku Sigulai
Suku Sigulai merupakan suatu suku bangsa yang mendiami sebagian kecil Kabupaten simeulue. dengan jumlah 20.000 penduduk, suku ini sebagian besar berada di pesisir barat pulau simeulue.

9. Suku haloban

Suku Haloban merupakan suatu suku yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil, tepatnya di kecamatan Pulau Banyak. Kecamatan Pulau Banyak merupakan suatu kecamatan yang terdiri dari 7 desa dengan ibukota kecamatan terletak di desa Pulau Balai. Bahasa Haloban masih bertalian erat dengan bahasa Devayan di pulau Simeulue. Belum di dapat keterangan yang jelas tentang suku ini.

10. Suku Julu

Suku Julu merupakan suatu suatu yang terdapat di kabupaten daratan. Suku ini lebih lazim dikenal sebagai suku Singkil. Belum di dapat keterangan yang jelas tentang suku ini.